Ketika Hidup Terlalu Sibuk Mencari Pengakuan: Masih Ingatkah Harapan Orang Tua Kita?

banner 2560x216

Napak Tilas Kehidupan “Soppeng, Parepare, Barru

Oleh: Ismail Djafar
Founder of Ki Hadjar Foundation

KABAR SINDO – Ketika masih kecil, mungkin kita pernah mendengar nasihat sederhana dari Ibu dan Bapak: belajarlah yang rajin, jadilah anak yang baik, hormati orang lain, dan kelak jadilah manusia yang berguna.

Nasihat itu tidak lahir dari teori yang rumit, melainkan dari kasih sayang dan harapan tulus orang tua terhadap masa depan anak-anaknya. Di balik kesederhanaan hidup mereka, tersimpan doa yang begitu besar agar kelak anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Bacaan Lainnya
banner 2480x2476

Dahulu, Ibu dan Bapak mungkin tidak pernah membayangkan anaknya harus menjadi pejabat tinggi, pemimpin besar, orang kaya, atau sosok yang dikenal banyak orang. Mereka hanya berharap anaknya tumbuh menjadi manusia yang berakhlak, mandiri, tidak menyusahkan orang lain, dan tetap mengingat Tuhan.

Bagi mereka, keberhasilan bukan semata-mata tentang tingginya kedudukan, melainkan tentang bagaimana anaknya menjalani kehidupan dengan baik dan menjaga kehormatan keluarga.

Namun, setelah dewasa, kita mulai mengenal dunia yang berbeda. Jabatan menjadi kebanggaan, gelar menjadi simbol kehormatan, kekayaan menjadi ukuran keberhasilan, dan pengakuan manusia seolah menjadi tujuan kehidupan.

Kita semakin sibuk membuktikan diri kepada orang lain, bahkan terkadang melupakan harapan sederhana Ibu dan Bapak yang dahulu membesarkan kita dengan penuh pengorbanan.

Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam kehidupan masyarakat umum, tetapi juga dalam lingkungan organisasi, birokrasi, dan dunia akademik. Tidak sedikit orang menghabiskan energi untuk membangun citra, mempertahankan pengaruh, dan mengejar kedudukan. Padahal, semakin besar ketergantungan seseorang terhadap pengakuan manusia, semakin mudah pula ketenangannya terganggu ketika harapan tersebut tidak terpenuhi.

Dalam perspektif ilmu sosial, kebutuhan memperoleh pengakuan merupakan sesuatu yang wajar. Manusia membutuhkan penghargaan dan penerimaan dari lingkungannya. Namun, persoalan muncul ketika pengakuan menjadi ukuran utama nilai diri.

Kita mulai merasa berhasil karena dipuji, merasa penting karena memiliki jabatan, dan merasa lebih tinggi karena mempunyai kekuasaan. Tanpa disadari, kehidupan berubah menjadi panggung pembuktian yang melelahkan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara keinginan menjadi lebih baik dan keinginan terlihat lebih baik. Yang pertama melahirkan pertumbuhan, sedangkan yang kedua sering kali menghadirkan kegelisahan.

Tidak semua orang yang terlihat hebat benar-benar menemukan ketenangan. Sebaliknya, tidak semua orang yang memilih hidup sederhana berarti gagal dalam kehidupannya.

Dalam tradisi tasawuf, manusia diajak untuk tidak menggantungkan ketenangan batin pada penilaian manusia. Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari melalui Al-Hikam mengingatkan pentingnya kesadaran seorang hamba terhadap keterbatasan dirinya dan ketergantungannya kepada Allah.

Kita boleh bekerja keras, memiliki cita-cita, dan mengejar keberhasilan, tetapi jangan sampai hasil duniawi menjadi satu-satunya ukuran kemuliaan hidup.

Pesan tersebut sangat relevan dalam kehidupan kepemimpinan. Jabatan sesungguhnya adalah amanah, bukan ukuran tertinggi kehormatan seseorang. Kekuasaan merupakan sarana menghadirkan manfaat, bukan tempat mempertontonkan kehebatan.

Demikian pula pendidikan dan gelar akademik, semestinya semakin memperkuat kerendahan hati, kematangan berpikir, dan tanggung jawab sosial.

Kita sering menyaksikan bagaimana persaingan memperoleh kedudukan dapat mengubah hubungan antarmanusia. Persahabatan yang terbangun bertahun-tahun menjadi renggang karena perbedaan pilihan. Orang yang sebelumnya dekat perlahan menjaga jarak.

Bahkan, ambisi terkadang membuat seseorang lebih sibuk mencari kelemahan orang lain daripada memperbaiki dirinya sendiri. Padahal, kompetisi yang sehat seharusnya melahirkan kedewasaan, bukan permusuhan. Kemenangan tidak semestinya menghadirkan kesombongan, sebagaimana kekalahan tidak seharusnya melahirkan dendam.

Dalam perspektif administrasi publik, kualitas kepemimpinan tidak semata-mata diukur dari kemampuan memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Kepemimpinan juga menyangkut integritas, keteladanan, kemampuan membangun kepercayaan, serta kesediaan mengutamakan kepentingan bersama. Seseorang boleh saja kehilangan jabatan, tetapi jangan sampai kehilangan kehormatan dan kepercayaan orang lain.

Pada titik inilah saya ingin mengajak kita kembali mengingat masa kecil. Bayangkan wajah Ibu yang dahulu merawat kita tanpa mengenal lelah. Ingat Bapak yang mungkin harus menyembunyikan kesulitannya agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Mereka bekerja, berkorban, dan berdoa tanpa pernah meminta balasan yang sebanding.

Bahkan, ketika kita belum mampu memahami arti perjuangan, mereka telah lebih dahulu mempertaruhkan tenaga, waktu, dan sebagian besar hidupnya untuk masa depan kita.

Lalu, setelah kita dewasa, memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan mungkin kedudukan yang terhormat, pernahkah kita bertanya: apakah kehidupan yang kita jalani hari ini masih sesuai dengan doa dan harapan Ibu dan Bapak dahulu?

Apakah mereka membesarkan kita agar menjadi manusia yang angkuh karena jabatan? Apakah mereka mendidik kita untuk memutus persaudaraan demi kekuasaan? Apakah mereka mengorbankan hidupnya agar kelak anaknya merasa lebih mulia daripada orang lain?

Tentu bukan itu harapan mereka. Orang tua ingin melihat anaknya berhasil tanpa kehilangan akhlak, maju tanpa melupakan asal-usul, dan dihormati tanpa harus merendahkan sesama.

Lebih jauh lagi, bakti kepada orang tua tidak cukup hanya diwujudkan melalui pemberian materi atau keberhasilan yang dapat dibanggakan. Bakti juga tercermin dari cara kita menjaga nama baik mereka, memperlakukan orang lain dengan hormat, serta mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang dahulu mereka tanamkan.

Bagi yang masih memiliki Ibu dan Bapak, luangkanlah waktu untuk menemani, mendengarkan, dan membahagiakan mereka. Jangan sampai kita memiliki waktu untuk begitu banyak urusan dunia, tetapi tidak menyediakan sedikit waktu untuk orang tua sendiri.

Sementara bagi yang telah ditinggalkan Ibu atau Bapaknya untuk selamanya, bakti tidak harus berhenti bersama kepergian mereka. Doa, amal kebaikan, menjaga hubungan kekeluargaan, dan meneruskan nilai-nilai luhur yang mereka wariskan merupakan cara untuk tetap menghormati pengorbanan mereka. Sebab, ada kerinduan yang tidak lagi dapat disampaikan melalui pelukan, tetapi masih dapat dititipkan melalui doa.

Semakin bertambah usia, seharusnya semakin tumbuh kesadaran bahwa tidak semua hal harus diperebutkan. Ada kemenangan yang patut disyukuri, ada kegagalan yang harus diterima, dan ada kesempatan yang memang bukan menjadi bagian kita. Tidak semua pencapaian perlu diumumkan, tidak semua perjuangan membutuhkan pujian, dan tidak semua penilaian manusia harus dijawab.

Pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling hebat. Kita boleh memiliki gelar tinggi, tetapi jangan kehilangan kerendahan hati. Kita boleh mengejar jabatan, tetapi jangan mengorbankan persaudaraan. Kita boleh menjadi orang besar, tetapi jangan sampai lupa menjadi anak yang tahu berbakti kepada orang tuanya.

Sebab, jabatan memiliki masa, kekuasaan memiliki batas, kekayaan dapat berkurang, dan popularitas suatu saat akan memudar. Namun, doa orang tua, ilmu yang bermanfaat, serta kebaikan yang dilakukan dengan tulus memiliki makna yang jauh melampaui penghargaan dunia.

Barangkali, ketika kecil Ibu dan Bapak tidak pernah meminta kita menjadi manusia yang paling hebat. Mereka hanya berharap kita menjadi anak yang baik, hidup terhormat, berguna bagi sesama, dan tidak melupakan Allah.

Maka, sebelum terlalu jauh mengejar pengakuan dunia, sesekali pulanglah dalam ingatan kepada masa kecil. Ingat kembali tangan yang dahulu menuntun langkah kita, wajah yang menyambut kepulangan kita, dan doa yang mengiringi perjalanan hidup kita.

Jangan sampai kita berhasil menjadi seseorang di mata dunia, tetapi gagal menjadi anak yang membanggakan dalam nilai-nilai yang dahulu diajarkan Ibu dan Bapak.

Karena sesungguhnya, keberhasilan terbesar bukanlah ketika dunia mengetahui siapa kita, melainkan ketika kehidupan yang kita jalani menjadi bukti bahwa pengorbanan dan doa orang tua tidak pernah kita sia-siakan.

Watansoppeng, 8 Oktober 2026

banner 2560x1463

Pos terkait

banner 6496x590