Teguh Iswara Suardi Kunjungi Sekolah Rakyat di Medan: Infrastruktur Unggul Harus Diiringi Sistem Pemeliharaan yang Matang

banner 2560x216

MEDAN – Anggota Komisi V DPR RI, Ir. Teguh Iswara Suardi, S.T., M.Sc., melaksanakan kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat di Medan. Agenda ini bertujuan meninjau kesiapan sarana pendidikan sekaligus mengevaluasi berbagai aspek penting sebelum fasilitas tersebut beroperasi secara penuh.

Langkah peninjauan ini menjadi momentum strategis guna melihat langsung kondisi infrastruktur di lapangan serta memetakan kebutuhan pengembangan agar layanan pendidikan yang diberikan berjalan optimal dan berkelanjutan.

Berbekal latar belakang pendidikan magister dari KU Leuven, Belgia, serta pengalaman panjang sebagai arsitek profesional lintas negara sebelum berkecimpung di dunia politik, Teguh menaruh perhatian mendalam pada aspek tata letak, keberlanjutan lingkungan, dan aksesibilitas fasilitas belajar.

“Secara umum, arsitektur bangunan Sekolah Rakyat sudah sangat baik. Optimalisasi pencahayaan alami dan kelancaran sirkulasi udara menjadi elemen krusial untuk menciptakan atmosfer belajar yang nyaman. Kendati demikian, pembangunan fisik ini wajib dibarengi dengan perencanaan pengelolaan serta pemeliharaan yang terukur,” ujar Teguh. Kamis (17/9/2026).

Bacaan Lainnya
banner 2480x2476

Ia menegaskan, anggaran perawatan fasilitas pendidikan tidaklah kecil. Oleh karena itu, kesiapan operasional, sistem pemeliharaan berkala, serta mekanisme perbaikan bangunan jangka panjang harus dirancang sejak dini agar investasi infrastruktur tidak sia-sia.

Selain infrastruktur, politisi ini menyoroti tingkat keterisian (okupansi) gedung yang masih berada di bawah angka 50 persen. Menurutnya, situasi ini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap sistem rekrutmen siswa serta optimalisasi kapasitas ruang yang tersedia. Sebagai solusi, perluasan kriteria penerima manfaat dapat dikaji ulang tanpa melenceng dari visi utama program.

“Tingkat okupansi yang rendah ini harus segera dibenahi. Mekanisme penjaringan perlu dievaluasi agar daya tampung sekolah terserap maksimal. Kita bisa mempertimbangkan pelonggaran kriteria penerima manfaat, sehingga akses pendidikan yang berkualitas tidak terbatas hanya bagi kelompok desil 1 dan 2 saja,” jelasnya.

Lebih lanjut, Teguh mendorong agar Sekolah Rakyat bertransformasi menjadi prototipe sekolah masa depan yang mengusung konsep bangunan hijau (green building). Implementasi teknologi ramah lingkungan seperti panel surya atap, sistem pengolahan sampah mandiri, hingga instalasi pemanenan air hujan dinilai sangat relevan diterapkan.

“Ke depan, konsep ramah lingkungan harus menjadi standar. Penggunaan energi surya dan pengelolaan air hujan akan menjadikan sekolah ini sebagai teladan institusi pendidikan yang berkelanjutan,” tambahnya.

Bagi Teguh, sebuah sekolah bukan sekadar deretan dinding dan atap, melainkan ruang esensial yang merajut pengalaman tumbuh kembang anak. Perencanaan yang matang sejak awal akan menjamin kenyamanan, efisiensi energi, serta kemudahan akses bagi seluruh siswa.

Aspek inklusivitas turut menjadi sorotan utamanya. Ia mengingatkan pentingnya ketersediaan sarana pendukung bagi penyandang disabilitas, seperti jalur landai (ramp) dan ulasan pemandu (guiding block).

“Sekolah Rakyat wajib menjadi ruang pendidikan yang inklusif tanpa terkecuali. Fasilitas aksesibilitas harus fungsional, sebab anak-anak penyandang disabilitas—terutama dari keluarga prasejahtera—memiliki hak setara untuk mengenyam pendidikan,” tegasnya.

Menutup kunjungannya, Teguh berharap Sekolah Rakyat tidak sekadar menjadi proyek pembangunan fisik semata, melainkan menjelma sebagai standar acuan percontohan fasilitas pendidikan yang memadukan kenyamanan, inklusivitas, dan mutu layanan terbaik.

“Mari kita lihat Sekolah Rakyat lebih dari sekadar gedung fisik; ini adalah model ideal bagaimana sebuah institusi pendidikan dirancang, dikelola, dan dihadirkan untuk masa depan bangsa,” pungkasnya. (RED)

banner 2560x1463

Pos terkait

banner 6496x590