Pertumbuhan Ekonomi Bupati-Wabup Luwu Timur Tercecer di Peringkat Bawah di Sulsel

banner 3167x231

LUWU TIMUR – Kendati menyandang status sebagai wilayah dengan cadangan nikel yang masif, Kabupaten Luwu Timur mencatatkan rapor ekonomi yang kurang memuaskan pada periode 2025/2026. Berdasarkan data terkini, laju pertumbuhan ekonomi daerah ini justru terpuruk di posisi kedua terendah se-Sulawesi Selatan.

Kondisi tersebut memantik gelombang kritik terhadap efektivitas kinerja pasangan Bupati dan Wakil Bupati, Ibas-Puspa, dalam satu tahun terakhir masa kepemimpinannya.

Predikat “daerah kaya” yang selama ini melekat pada Luwu Timur seolah kontradiktif dengan realitas di lapangan. Berbagai inisiatif dan program unggulan yang diluncurkan Pemerintah Daerah sepanjang 2025 dinilai belum mampu memberikan daya dorong yang berarti bagi perekonomian masyarakat.

“Sangat ironis melihat daerah dengan cadangan nikel terbesar justru berada di peringkat kedua terbawah di Sulsel. Ini adalah sinyal kuat adanya masalah dalam tata kelola serta eksekusi pembangunan,” ungkap seorang pengamat kebijakan publik setempat.

Bacaan Lainnya
banner 2480x2476

Rendahnya angka pertumbuhan ini memicu spekulasi bahwa program kerja Ibas-Puspa cenderung bersifat elitis. Ada persepsi kuat di masyarakat bahwa manfaat pembangunan belum dirasakan secara merata dan hanya menguntungkan segelintir kelompok.

Beberapa poin utama yang menjadi rapor merah di antaranya:

– Minimnya Sentuhan di Sektor Riil: Program pemerintah dianggap belum menyentuh kebutuhan dasar pelaku UMKM, petani, dan nelayan yang merupakan tulang punggung ekonomi akar rumput.

– Ketergantungan pada Nikel: Pemerintah dinilai terlalu mengandalkan sektor pertambangan dan abai dalam menciptakan diversifikasi ekonomi yang lebih inklusif.

– Ketimpangan Distribusi Manfaat: Aliran anggaran daerah dituding hanya berputar di lingkaran tertentu, sehingga gagal menciptakan efek domino (trickle-down effect) bagi penduduk di wilayah pedesaan.

Pemerintahan Ibas-Puspa kini berada di bawah tekanan besar untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Tanpa perubahan strategi yang mendasar, dikhawatirkan kesenjangan sosial akan semakin lebar meskipun angka ekspor nikel terus melonjak.

Kini, publik menanti langkah konkret dari pemerintah: Apakah akan ada terobosan program yang lebih pro-rakyat, ataukah Luwu Timur tetap akan menjadi “raksasa yang tertidur” di klasemen ekonomi Sulawesi Selatan?. (RED)

banner 2756x1516

Pos terkait

banner 6496x590