Oleh: Dr. Ismail, S.Pd., M.Si. (Dosen Ilmu Administrasi Negara, Universitas Negeri Makassar)
KABAR SINDO – Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar bukan semata-mata kontestasi untuk menentukan siapa yang akan menduduki kursi rektor. Lebih jauh, Pilrek adalah momentum menentukan arah UNM untuk beberapa tahun ke depan. Karena itu, pencalonan Prof. Aslinda menarik dibaca tidak hanya dari perspektif figur, tetapi melalui pertanyaan sederhana yang selama ini dikenal sebagai 5W+1H: What, Who, When, Where, Why, dan How.
What: Apa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan?
Yang diperebutkan dalam Pilrek UNM bukan sekadar jabatan rektor. Yang lebih substantif adalah arah kepemimpinan universitas: bagaimana UNM memperkuat kualitas akademik, riset dan publikasi, tata kelola, transformasi digital, kesejahteraan sivitas akademika, serta reputasinya pada tingkat nasional dan internasional.

Karena itu, pencalonan Prof. Aslinda semestinya dibaca dalam konteks yang lebih besar: gagasan apa yang ditawarkan untuk membawa UNM bergerak maju?
Who: Siapa Prof. Aslinda dalam kontestasi ini?
Dalam sebuah pemilihan pemimpin perguruan tinggi, “siapa” tidak cukup dijawab dengan nama, gelar akademik, atau jabatan. Pertanyaan yang lebih penting adalah rekam jejak kepemimpinan, pengalaman mengelola organisasi, kemampuan membangun kolaborasi, serta kapasitas memahami persoalan universitas.
Di sinilah publik akademik perlu melihat setiap calon secara objektif. Termasuk Prof. Aslinda: bukan sekadar sebagai figur yang ikut dalam kontestasi, melainkan sebagai salah satu akademisi yang menawarkan dirinya untuk diuji gagasan, rekam jejak, kapasitas, dan integritasnya.
When: Mengapa momentum ini penting?
UNM sedang berada pada fase ketika perubahan lingkungan pendidikan tinggi berlangsung sangat cepat. Digitalisasi, kompetisi antarperguruan tinggi, tuntutan publikasi bereputasi, internasionalisasi, penguatan jejaring, kualitas lulusan, hingga tata kelola universitas menuntut kepemimpinan yang mampu membaca perubahan.
Karena itu, Pilrek kali ini bukan sekadar persoalan pergantian kepemimpinan. Ia merupakan momentum untuk menentukan apakah UNM hanya akan mengikuti perubahan atau justru menjadi salah satu universitas yang memimpin perubahan.
Where: Di mana sesungguhnya Pilrek harus diperdebatkan?
Arena terbaik Pilrek seharusnya bukan ruang pertarungan personal, melainkan ruang pertarungan gagasan.
Kampus harus menjadi tempat di mana visi diuji, program diperdebatkan, rekam jejak diperiksa, dan kemampuan calon dalam menjawab persoalan universitas dinilai secara rasional. Dengan demikian, siapa pun yang akhirnya terpilih memperoleh legitimasi bukan semata karena kekuatan dukungan, tetapi juga karena kekuatan gagasannya.
Why: Mengapa Prof. Aslinda maju?
Pertanyaan “mengapa” merupakan jantung dari sebuah pencalonan.
Mengapa seseorang bersedia mengambil tanggung jawab besar memimpin UNM? Apa yang ingin diperbaiki? Apa yang ingin dilanjutkan? Dan warisan kepemimpinan seperti apa yang ingin ditinggalkan?
Prof. Aslinda, sebagaimana calon lainnya, perlu menjawab pertanyaan tersebut secara terang kepada komunitas akademik. Sebab jabatan rektor bukanlah tujuan akhir. Jabatan hanyalah instrumen; kemajuan universitaslah yang seharusnya menjadi tujuan.
How: Bagaimana kepemimpinan itu nantinya dijalankan?
Di sinilah ujian sesungguhnya.
Visi yang baik membutuhkan strategi. Program yang besar membutuhkan kemampuan eksekusi. Dan kepemimpinan universitas membutuhkan kemampuan merangkul banyak kepentingan tanpa kehilangan prinsip.
Jika Prof. Aslinda ingin menghadirkan kepemimpinan yang kuat, maka kekuatan itu seharusnya ditunjukkan melalui kemampuan membangun kolaborasi, meritokrasi, transparansi, profesionalisme, serta keberanian menempatkan kepentingan institusi di atas kepentingan kelompok.
Pada akhirnya, 5W+1H membawa kita pada satu kesimpulan sederhana, Pilrek UNM jangan berhenti pada pertanyaan “Who will be the next Rector?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah “Why should we trust the next Rector, and how will that trust be answered?”
Prof. Aslinda telah memasuki ruang kontestasi. Selanjutnya, biarkan gagasan berbicara, rekam jejak menjadi bukti, integritas menjadi ukuran, dan komunitas akademik menilai dengan jernih.
Sebab UNM tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu memenangkan pemilihan, tetapi pemimpin yang mampu memenangkan masa depan universitas.
Pilrek akan selesai dalam satu momentum. Tetapi konsekuensi dari pilihan itu akan menentukan perjalanan UNM untuk tahun-tahun berikutnya. (*)












