Prabowonomics: Menakar Dampak MBG dan Diplomasi Global Indonesia

banner 3167x231

JAKARTA – Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dinilai menjadi fondasi krusial bagi kebangkitan ekonomi nasional sekaligus penguatan peran global Indonesia. Optimisme ini muncul bukan berdasarkan sentimen emosional atau sikap partisan, melainkan hasil pembacaan objektif terhadap arah kebijakan, implementasi program strategis, serta langkah diplomasi internasional yang telah dijalankan.

“Salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dipandang bukan sekadar bantuan sosial, melainkan desain kebijakan ekonomi struktural yang berdampak luas,” ujar Ketua Lembaga Pemikiran Stratejik Prabowonomics, Tomy Nikson, sebagaimana dilansir SindoNews, Kamis (5/3/2026).

Dengan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di berbagai daerah dan memproduksi jutaan porsi makanan setiap hari, MBG dinilai mampu menggerakkan rantai pasok pangan dari tingkat desa hingga nasional.

“Kebutuhan bahan pangan yang meningkat akan mendorong produksi petani dan pelaku usaha kecil, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat daya beli masyarakat,” tambahnya.

Bacaan Lainnya
banner 2480x2476

Tomy menilai pendekatan ini mencerminkan pemanfaatan efek berganda (multiplier effect) dalam ekonomi. Perputaran ekonomi lokal meningkat seiring bertambahnya aktivitas produksi dan konsumsi secara masif.

Selain itu, MBG diposisikan sebagai investasi jangka panjang pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Merujuk pada riset internasional, setiap satu dolar investasi gizi dapat menghasilkan pengembalian ekonomi yang berlipat ganda, membuktikan bahwa kebijakan ini adalah langkah konkret pembangunan human capital.

Dalam perspektif pembangunan, Presiden menekankan bahwa pertumbuhan harus dimulai dari lapisan terbawah masyarakat. Paradigma ini memperluas pusat pertumbuhan ekonomi sehingga tidak hanya bertumpu pada sektor besar atau kota-kota utama, tetapi juga menjangkau wilayah yang selama ini kurang tersentuh.

Bagi Tomy, MBG menjadi instrumen untuk memastikan stabilitas ekonomi yang lebih resilien terhadap guncangan eksternal melalui penguatan konsumsi rumah tangga dan kepastian permintaan pangan domestik.

Meski mengakui adanya tantangan implementasi dalam program berskala nasional, Tomy menekankan pentingnya komitmen kepemimpinan terhadap pengawasan, evaluasi, dan perbaikan tata kelola. Ketegasan terhadap penyimpangan serta keberanian melakukan koreksi dinilai sebagai ciri kepemimpinan yang bertanggung jawab dan adaptif.

Di tingkat global, langkah Presiden Prabowo menandatangani Piagam Board of Peace di Davos pada 22 Januari 2026 menjadi simbol peran aktif Indonesia dalam mendorong stabilisasi dan rekonstruksi Gaza pascakonflik. Partisipasi ini sejalan dengan prinsip solusi dua negara (two-state solution) dan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Menurut Tomy, keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak pasif dalam dinamika geopolitik, melainkan hadir sebagai kekuatan moral yang mendorong perdamaian dan keadilan internasional.

Kombinasi antara penguatan ekonomi domestik dan diplomasi aktif mencerminkan kepemimpinan yang utuh yakni, membangun kesejahteraan di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung dunia.

Optimisme terhadap kepemimpinan Presiden bertumpu pada empat pilar utama yaitu, Visi pembangunan jangka panjang yang berpusat pada rakyat; Keberanian menjalankan program besar dengan target terukur; Komitmen pada tata kelola yang akuntabel; Peran strategis dalam merespons isu-isu global.

Tomy menutup dengan catatan bahwa kritik tetap penting dalam demokrasi untuk memperbaiki kebijakan. Namun, ia meyakini bahwa dengan konsistensi, kerja keras, dan dukungan rakyat, Indonesia kini berada pada momentum tepat untuk melompat menuju fase kemajuan baru yang lebih mandiri, berdaulat, dan diperhitungkan dunia. (JON/RED)

banner 2756x1516

Pos terkait

banner 6496x590