Pemuda Muhammadiyah Dorong RI Ambil Peran Penengah Konflik AS-Iran

banner 3167x231

JAKARTA – Konflik antara poros Amerika Serikat-Israel dengan Iran kian memanas tanpa tanda-tanda deeskalasi. Sebagai anggota Board of Peace (BoP) sekaligus bagian dari BRICS, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk berperan sebagai penengah guna meredam ketegangan tersebut.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Bidang Hubungan Luar Negeri, Emaridial Ulza, menilai bahwa saat ini baik Amerika Serikat maupun Iran sama-sama berada dalam posisi terdesak. Menurutnya, kehadiran pihak penengah sangat krusial, dan Indonesia bisa mengambil peran penting dengan menggalang pertemuan melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) atau merangkul negara-negara Timur Tengah lainnya.

”Indonesia berada di posisi unik; sebagai anggota Board of Peace bentukan Trump dan juga bagian dari BRICS. Ini bisa menjadi penghubung. Minimal, niat baik Presiden Prabowo dapat sedikit mengurangi ketegangan, terlepas dari segala konsekuensi diplomasi yang ada,” ujar Emaridial, Senin (9/3/2026).

Emaridial juga menyoroti pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut Iran sebagai “The Loser of the Middle East” dan mengklaim Iran telah menyerah kepada tetangganya. Pernyataan yang diunggah di platform Truth Social tersebut dinilai tidak mencerminkan realitas geopolitik yang sebenarnya.

“Pernyataan itu tidak lebih dari sekadar retorika politik, bukan gambaran nyata kondisi Timur Tengah di tengah pertempuran yang berkecamuk. Donald Trump memiliki gaya komunikasi yang selalu mengklaim kemenangan sejak awal untuk menekan lawan secara psikologis,” lanjutnya.

Akademisi yang juga Associate Professor di Uhamka ini menyoroti kontradiksi dalam pernyataan Trump. Di satu sisi, Trump menyebut Iran telah meminta maaf dan menyerah, namun di sisi lain ia tetap melontarkan ancaman serangan keras ke wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak menjadi target.

“Kontradiksi ini menunjukkan bahwa situasi di lapangan sangat kompleks dan ada kemungkinan Amerika sendiri dalam keadaan terdesak,” tambah Emaridial.

Sebagai Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI), ia menambahkan bahwa dalam konflik internasional, deklarasi kemenangan sepihak sering kali digunakan sebagai strategi negosiasi untuk membangun opini publik. Pola serupa pernah terlihat dalam negosiasi dagang AS dengan China serta krisis Korea Utara.

Emaridial menegaskan bahwa klaim Iran telah menyerah kemungkinan besar hanyalah framing untuk konsumsi domestik AS guna membangun narasi kemenangan (triumfalis) di mata rakyatnya, bukan deskripsi akurat kondisi lapangan.

“Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Dalam sejarah, retorika semacam ini justru berisiko memperpanjang eskalasi. Apalagi dengan absennya dukungan langsung dari sekutu seperti Inggris, Spanyol, dan Jerman dalam perang ini, semakin memperkuat indikasi bahwa sebenarnya Trump sangat membutuhkan negosiasi,” tutupnya. (TIM)

banner 2756x1516

Pos terkait

banner 6496x590